Trip ke Solo – Jogja (day-4)

Senin, 27 Januari 2020.

Hari terakhir Kami di jogja, saatnya packing dan cek out dari hotel Grand Serela. Hari ini Kami full mau jalan-jalan sebelum ke stasiun. Kereta Kami dijadwalkkan berangkat jam 5 sore, jadi masih ada waktu buat eksplor Jogja. Tujuan pertama Kami ada warung kopi Klotok di daerah Kaliurang. Ada beberapa kopi klotok di Jogja, tapi katanya yang di Kaliurang paling asik. Dengan menggunakan maps Kami menuju ke lokasi yang berjarak sekitar 12 kilometer dari hotel Kami. Gak perlu waktu lama, setengah Kami dah tiba di lokasi. Kami tiba pas jam makan siang. Letak rumah makan yang di dalam gang paling pojok, membuat suasana hening dan nyaman. Kami parkir langsung masuk ke rumah makan. Bentuk rumah kuno dengan bahan papan jadul menambah kesan tradisional yang memang sudah kental. Kami langsung antri, karena model menu disini prasmanan. Ada 3 macam sayur lodeh, ada ikan, dan yang paling favourit adalah telor dadarnya. Bisa dibilang menunya cukup sederhana, tapi rasanya enak banget, gak terlalu medok, passs. Kami mulai menyantap makanan di meja kayu bagian dalam rumah makan. suasana santai dan alami menambah kesan yang jogja banget. Nongkrong selama satu jam disini sudah cukup buat Kami, karena Kami harus mengisi waktu sepadat mungkin sebelum kereta berangkat.

Hint : Ada banyak warung kopi klotok di Jogja, setau Saya ini yang paling bagus.

Lunch : Rp. 105,000 for 4 pax

Selesai makan, kira-kira jam 1 siang, Kami langsung naik mobil dan menuju tempat oleh-oleh. Ada satu makanan yang unik yang belum pernah Kami coba, yaitu Bakpia Kukus Tugu Joga. Biasanya, bakpia bentuknya seperti yang Kita tahu saat ini, tapi ini modelnya mirip bapao atau roti srikaya kukus di jakarta. Jaraknya hanya 7 kilometer dan mengarah ke stasiun. Sebisa mungkin, cari tempat belanja yang gak jauh dari stasiun, jadi gak buru-buru.

15 menit perjalanan, Kami tiba di toko bakpia kukus Tugu Jogja. Letaknya di daerah Condong Catur. Di daerah sini banyak banget toko oleh-oleh. Kami masuk ke toko yang ber-AC tersebut. Ada beberapa variant rasa dan model oleh-oleh disini. Harganya pun terbilang gak maha-mahal banget. Selesai belanja, Kami langsung memasukkan oleh-oleh ke mobil dan melanjutkan ke destinasi berikutnya.

Hint : Ternyata bakpia kukus Tugu Jogja ini juga tersedia di dalam stasiun Lempuyangan

1 Pak Bakpia Kukus Tugu Jogja : Rp. 35,000.

Selesai belanja, dan sepertinya oleh-oleh dah kebagian semua. Kami masih ada beberapa jam untuk jalan-jalan. Setelah cek lokasi mana aja yang belum Kami kunjungi, kami akhirnya mengarah ke daerah Harjowinatan. Tempat yang akan Kami kunjungi adalah Rujak Es Cream Pak Nardi.

Seperti halnya warung kopi klotok, ada banyak versi dan tempat dari tempat ini. Namun katanya yang asli tuh ya disini. di sisi barat Pakualaman. Letaknya agak ke dalem sih, tinggal ikutin google maps aja pasti sampe. Lokasinya juga kelihatan di pinggir jalan karena ada banner yang lumayan gede.

Akhirnya Kami tiba di tujuan. Suasana mendung, lokasi di pinggir jalan, lengkap sudah kalo sambil menikmati rujak es krim. Hanya ada satu menu disini, langsung aja Kami pesan 4 porsi. Rasanya cukup unik, rujak pedas tapi ada dingin-dinginnya gitu. Pas banget ini buat nyemil siang menuju sore.

Hint : Sepanjang jalan ada banyak tempat yang jualan es krim rujak, tapi yang asli katanya Rujak Ice Cream Pak Nardi

Rujak Ice Cream : Rp. 7,000 / porsi

Selesai nyemil, masih ada 2 jam setengah sebelum balik ke Jakarta. Kami memutuskan pergi ke suatu tempat yang bersejarah di Jogja, yaitu Tamansari. Lokasinya yang dekat stasiun jadi alasan Kami memilih tempat ini. Sekitar sekilo perjalanan Kami tiba di Tamansari. Ada banyak pintu masuk ke area ini, karena letaknya yang ditengah perumahan warga. Kami masuk dari arah gang sempit satu arah, dan kayaknya ini pintu utama, patokannya dekat masjid besar dan area istana air mancur. Setelah parkir, Kami langsung masuk dan membeli tiket seharga 5000 rupiah per orang, dan diberikan juga buku panduan berupa peta dan sejarah Tamansari. Kami lalu mulai menyusuri Tamansari, awalnya Kami hanya mengitari spot demi spot disini, dan kayanya ya biasa aja, gak ada yang istimewa. Sampai ketika Kami tiba di salah satu spot setelah air mancur. Kami ditawari jasa pemandu wisata, katanya, lokasi di Tamansari ini luas sekali, dan banyak spot bagus dan unik yang tersebar di sekitar pemukiman warga, makanya untuk sampai kesana dan menghemat waktu, lebih baik menggunakan jasa pemandu. Untuk harga, wanita ini yang Saya lupa tanya namanya mengatakan, fee untuk pemandu diberikan seiklasnya saja, tidak dipatok harga. mengingat kalo Kami menunggu kereta, Kami akhirnnya menggunakan jasa pemandu wisata agar hemat waktu. Kami mulai menyusuri spot-spot menarik, dan ternyata letaknya memang di tengah perkampungan. Menurut Pemandu Wisata, dulunya Tamansari ini berbentuk halaman istana yang luas, tapi dikarenakan bencana alam, banyak bangunan yang runtuh, nah, halaman-halaman kosong itu sekarang dijadikan rumah yang disediakan bagi para abdi dalem. Selama perjalanan, Kami diceritakan sejarah Tamansari dan kisah-kisah dibaliknya. Kami diajak ke ukm dengan produk kaos dan souvenir asli buatan anak muda Jogja. Kami juga diajak ke masjid bawah tanah yang tempatnya banyak dipakai untuk shooting film dan photo shoot. Dan ternyata gak salah sama sekali Kami menggunakan jasa pemandu disini. Dia  sangat detail menjelaskan tentang sejarah Tamansari, dan juga yang gak kalah menarik, Dia bisa jadi fotografer dadakan, haha. Pemandu Kami yang satu ini sangat gesit, jadi gak makan waktu buat pindah dari satu spot ke spot lainnya. Menurut informasi yang Kami dapat, bahwa dalam tahun ini akan dilakukan pemugaran besar-besaran untuk mengembalikan bentuk Tamansari seperti semula. Sangat beruntung Kami bisa kesini dulu sebelum nanti ditutup untuk umum. Tibalah Kami di spot terakhir di Tamansari, waktu menunjukkan pukul 3 sore, pas dengan jam tutup museum. Kami pun memberikan tip buat pemandu Kami, lalu Kami menuju parkiran dan berangkat ke stasiun Lempuyangan.

Hint : Area Tamansari ini sangat luas, lebih baik menggunakan jasa pemandu yang tersedia di dalam museum. Banyak sejarah yang layak untuk diketahui melalui jasa pemandu ini.

Tiket : Rp. 5,000 /orang.

Tibalah saatnya waktu Kami ke tujuan terakhir, yaitu stasiun Lempuyangan. Disana, sudah menunggu orang yang mau mengambil mobil. Masih ada waktu dua jam lagi menurut jadwal, tapi Kami mau santai aja nunggu di kafe di dalam stasiun biar gak buru-buru. Itulah kisah perjalanan Kami di dua provinsi dengan rombongan berbeda. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *