Trip ke Solo – Jogja (day-3)

Minggu, 26 Januari 2020.

Kami bangun pagi sekali, jam 9 sudah siap untuk menuju tempat wisata berikutnya. Kami dijemut oleh teman Kami yang tinggal di Semarang, namanya Ajo dan istrinya. Dengan menggunakan mobil, Kami menuju daerah Gunung Kidul. Ajo mengajak Kami mengunjungi salah satu pantai di pesisir selatan Jogja. Pantai yang Kami kunjungi bernama pantai Ngrawe. Lokasinya cukup jauh dari kota. Perjalanan Kami tempuh sekitar 3 jam. Agaknya lokasi ini cukup makan waktu, jadi kalian harus memperhitungkan berapa hari kalian stay di Jogja. Kalau hanya 2 hari, lebih baik mengujungi lokasi wisata yang dekat-dekat saja. Setelah 3 jam perjalanan, Kami sampai di lokasi pantai Ngrawe. Lokasinya berdekatan dengan pantai Baron. Tapi alangkah kecewanya Kami, ternyata di pantai ini dilarang berenang, haha. Kami agak bingung, kok pantainya gak boleh bua berenang? alhasil Kami hanya makan siang disana dan langsung pulang mengunjungi lokasi wisata di kota.

Hint : Cari tahu dahulu pantai yang mau dikunjungi, ada beberapa pantai yang gak bisa dibuat berenang.

Tiket : Rp. 10,000./orang.

Selesai makan siang, Kami langsung bergegas ke mobil. Tujuan Kami berikutnya adalah jalan Malioboro. Selama perjalanan menuju Malioboro, Saya tertidur, dan baru terbangun ketika udah mau sampai. Gak tau kenapa rasanya capek banget perjalanan ke pantai ini, karena lebih lama perjalanannya daripada main di pantainya. Setelah perjalanan hampir 3 jam, Kami tiba di Malioboro. Kami memarkirkan kendaraan Kami di Malioboro Mall. Kami memilih memarkirkan kendaraan disini agar Kami bisa menikmati suasana sore di Malioboro dengan berjalan kaki.

Sepanjang jalan Malioboro sangat ramai. Tujuan pertama Kami adalah House of Raminten. Kami mau mencicil oleh-oleh, agar besok bisa agak santai. Barang-barang di Raminten ini tergolong murah, jadi bisa beli lebih banyak. Selesai dari Raminten Kami ditawari oleh tukang becak untuk menaiki becaknya seharga 10 ribu rupiah. Rutenya adalah Malioboro – Pabrik Bakpia Pathuk 25 – Malioboro. Kami OK aja lah, lagi juga gak ada salahnya, harganya murah dan Kita bisa beli oleh-oleh langsung dari pabriknya.

Hint : Cari parkir mobil disini susah, jadi lebih baik parkir di luar area jalan Malioboro.

Becak : Rp. 10,000.( Malioboro – Pabrik Bakpia – Malioboro ).

Waktu sudah sore, saatnya Kami kembali ke hotel untuk mandi. Kami berpisah denga Ajo dan istrinya di hotel. Mereka akan kembali ke Semarang. Setelah berpamitan Kami langsung menuju kamar dan mulai bersih-bersih. Malam ini ada tempat viral yang mau Kami kunjungi,yaitu Gudeg Bromo Bu Tengkluk. Makanya karena penasaran dan gak sabar, setelah mandi Kami langsung otw kesana.

Selesai bersih-bersih, jam 8 malam Kami menuju Gudeg Bu Tengkluk. Berdasarkan video yang viral, biasanya pembeli mulai antri panjang untuk membeli, makanya Kami gak mau terlalu malam untuk kesana. Menggunakan maps, Kami tiba di lokasi, tapi kok sepi ya, kayak gak ada tanda-tanda orang jualan. Saya tanya ke orang yang lagi nongkrong di sekitar pinggir jalan, katanya warung baru buka jam 11 malam. Wow, ini lebih bikin penasaran lagi, udah ngantri, eh bukanya jam 11 malam, random banget. Masih ada waktu 3 jam buat nunggu. Sara menyarankan untuk nyemil dan ngopi dulu di coffee shop hits di daerah Minomartami. Kami memang mengumpulkan beberapa destinasi wisata yang kekinian, hanya buat selingan ketika ada waktu kosong buat nunggu.

Tibalah Kami di coffee shop yang bernama Ivy English Coffee. Di sederetan sini memang banyak coffee shop. Kayanya ngopi udah jadi gaya hidup anak Jogja. Daerah ini emang bukan daerah wisatawan, makanya Saya suka disini, karena kebanyakan pengunjungnya memang orang Jogja asli. Model kafe ini seperti kebanyakan kafe di Jakarta. Dari luar terlihat minimalis dengan jendela bening besar. Kami langsung memesan di bar dan langsung membayar. Service disini seprti di Starbucks, semuanya self service. Kami memesan minuman signature, yaitu cold brew. Ternyata tempat ini ada area outdoor-nya. Kami memilih duduk di bagian belakang kafe. Ternyata keren banget di luar sini. Area luas di pinggir sawah dengan dekorasi lampu remang rustic mebuat suasana jadi cozy. Dan yang terpenting, disini gak ada nyamuk, jadi asik deh nongkrong disini.

Hint : Banyak hidden gems di Jogja yang bukan tourist attraction, jadi, sering-sering browsing aja biar tahu tempat apa aja yang lagi happening di Jogja

Drinks : Rp. 105,000. (4 coffee).

Gak terasa ngobrol-ngobrol, waktu udah menunjukkan pukul 10.30 malam. Saatnya menuju destinasi utaman Kami, yaitu gudeg Bu Tengkluk. Rasa penasaran selama perjalanan terus memuncak, se-ngantri apa sih, kok sampe jam 11 malam baru buka. Kami tiba di tujuan, lokasi yang sebelumnya kosong, sekarang udah diisi oleh antrian sekitar 30 orang. Bener-bener gokil nih gudeg. Saya sebenernya lebih penasaran aja dengan rasanya, karena Saya emang gak suka makan ngantri kaya gini. Jadi, Kami mesti masuk antrian, dimana masih 30 menit lagi warungnya dibuka. Kami mengisi waktu menunggu dengan ngobrol-ngobrol dan main HP. Akhirnya lampu menyala dan warung pun dibuka, mulailah barisan bergerak. Pelayanannya sangat tradisional tapi juga cepat, gak perlu waktu lama buat Kami sampai di barisan depan. Kami pun memilih menu gudeg dengan isian yang bebas, ada ayam suwir, telor bulat dll. Setelah mendapatkan pesanan Kami langsung duduk lesehan di depan ruko sepanjang jalan. Rasa dari gudeg ini menurut Saya biasa, tapi Saya sangat menikmati. Biasanya gudeg itu manis, tapi ini sangat light, jadi jjika Saya ke Jogja lagi, Saya akan makan gudeg disini, karena pas dengan selera Saya. Selesai makan dan hilang sudah penasaran, Kami kembali ke hotel sambil melewati beberapa destinasi di sekitar perjalanan untuk foto. Besok Kami harus  cek out pagi, karena masih ada destinasi yang mau dikunjungi, dan jadwal kereta Kami juga sudah menunggu di sore hari.

Hint : Kalo mau ngantri cepat, dateng 1 jam sebelum buka.

Gudeg : Rp. 170,000 (4 pax, tergantung isiannya).

See you in the next article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *