Trip ke Solo – Jogja (day-1)

Ada banyak alasan orang untuk traveling. Ada yang karena hobi, pekerjaan atau dadakan. Kali ini, Saya dan Sara akan traveling dengan alasan “kondangan”, iya, kondangan ke kota di Jawa Tengah, yaitu Solo. Selain karena yang menikah adalah sahabat saya sendiri, Saya juga senang pergi mendatangi suatu tempat sambil jalan-jalan. Artikel ini memuat trip Kami dari Jakarta menuju Solo lalu lanjut ke Jogja. Selamat membaca.

Kamis, 23 Januari 2020.

Rasa gak sabar udah mau buru-buru ke stasiun Pasar Senen. Ya, kereta Saya akan berangkat pukul 9.05 malam, jadi Saya masih masuk kerja di siang harinya, lumayan cutinya bisa buat hari senin depan biar liburannya lama. Dari kantor, Saya meneaiki ojol agar bisa sampai lebih cepat. Keadaan jalan pada jam 7 malam lagi padat-padatnya, untung ojol yang Saya naiki memilih jalur yang cepat, jadi ga kelamaan di jalan, Sedikit-sedikit Kami ngobrol dengan perckapan khas antara supir dan penumpang.

Hint : Untuk mengindari kemacetan, lebih baik naik ojol.

Ojol : Rp.16,000. (Pancoran-Senen).

Perjalanan memakan waktu 30 menit, masih ada waktu 90 menit sebelum keberangkatan, Saya makan malam dulu di warung pecel ayam di depan stasiun. Saya makan disini karena menurut Saya praktis, kalau di dalam mungkin bakal penuh banget dan jadi gak nyaman, lagi pula menurut Saya ini sekalian jalan. Tapi sepertinya makan di warung depan stasiun bukan pilihan tepat. Bukan masalah harga atau rasa-nya, tapi lebih pada ketidaknyamanan akibat pengamen yang hampir 4 kali datang. Kalau Saya ada recehan, pasti Saya kasih, tapi kalau keadaannya lagi makan, terus tangan juga kotor, ya gimana. Saya minta maaf aja baik-baik, mereka pun mengerti. Saya percepat makan dan langsung menuju masuk ke arah stasiun.

Saat mau memasuki pintu masuk, ternyata pas adzan isya. Saya langsung belok ke masjid yang ada di sebelah kiri pintu masuk stasiun. Masjid ini cukup tertata, ada penjaga sendal dan penitipan tas menggunakan tiket dengan sedekah seiklasnya, jadi Kita bisa beribadah dengan tenang. Selesai Sholat HP saya berdering, ternyata Sara sudah tiba di stasiun, Saya langsung keluar masjid dan menemuinya. Kami langsung masuk ke dalam stasiun dan menemui 2 orang lagi akan pergi bersama Kami, yaiut teman saya, Panji dan Indri.

Hint : Lebih baik makan di dalam stasiun, walaupun lebih mahal, tapi gak ada pengamen.

Makan malam : Rp.18,000. (Pecel ayam 1 porsi).

Saya dan Sara bertemu dengan Panji dan Indri di counter untuk print tiket. Setelah mencetak tiket, Kami langsung menuju peron untuk cek in. Ternyata kereta Kami sudah tiba dan Kami langsung boarding. Kami dapat kursi di gerbong terakhir, yaitu eksekutif empat. Ternyata di dalam gerbong, Saya baru tau kalau ada 2 orang lagi teman Saya yang ikut, yaitu Priono dan Lulu, jadi rame deh perjalanan.

Kereta Kami berangkat on-time jam 9.05 malam. Sesuai jadwal, Kami akan tiba di Stasiun Balapan Solo jam 6 pagi. Kepergian Kami ke Solo adalah untuk menghadiri undangan teman kami, Erik. Undangan yang kami terima, acara pemberkatan akan dilaksanakan jam 9 pagi, dan resepsi jam 7 malam. Kami sengaja berangkat kamis malam agar kami bisa kerja dahulu, jadi ambil cutinya gak banyak.

Ini adalah keli kedua Saya naik kereta melalui Stasiun Pasar Senen, biasanya Saya memilih kereta dari Stasiun Gambir. Kondisi gerbong eksekutif yang Kami tumpangi, tidak berbeda dengan eksekutif lainnya. Hanya saja, seringkali kereta yang Kami tumpangi tertahan di pintu masuk beberapa stasiun, mungkin harus antri dengan kereta prioritas lainnya. Seperti biasa, Saya orangnya gak bisa diem di kereta, Saya pun menuju gerbong restorasi untuk nyemil atau ngopi. Ternyata Saya kecewa, gerbong restorasi yang biasanya lux dan besar, ternyata disini kecil dan gak ada mejanya, persis seperti bangku kelas ekonomi. Saya agak kecewa, dan hanya membeli kopi susu lalu kembali ke bangku. Saya putuskan untuk tidur agar fresh besok pagi.

Hint : Kalau harga beda sedikit, lebih baik naik dari Gambir, keretanya bagus-bagus dan biasanya lebih diprioritaskan masuk stasiun.

Tiket Kereta : Rp.310,000. (Mataram-Eksekutif / Senen-Balapan).

Kami tiba di Stasiun Balapan Solo sekitar jam 5.55 pagi. Pas banget pagi-pagi gini udara masih seger, Kami juga tidur cukup pas di kereta. Lalu Kami bergegas mengarah ke pintu keluar kereta dan langsung disambut oleh banyak supir taksi yang menawarkan jasa transportasi, sama lah seperti stasiun-stasiun lainnya di Indonesia. Tadinya Kami mau memesan taksi online, tapi mengingat bawaan Kami banyak, kayanya Kami harus keluar area stasiun dulu agar bisa menaiki taksi online, dan itu cukup merepotkan. Saya langsung menghampiri supir yang menawarkan mobil APV, nego harga dan deal Kami naik mobil ini saja. Menurut Saya harga yang diberikan cukup fair, Dia meminta harga 60 ribu rupiah sampai ke hotel, mungkin dia menghitung dari jumlah Kami yang 6 orang, jadi per orang 10 ribu. Overall, Kami puas, supirnya ramah dan komunikatif, mobilnya pun besar, hingga barang bawaan Kami bisa masuk semua. Perjalanan dari stasiun Balapan ke hotel transit Kami hanya 7 menit, cukup dekat. Ketika sampai di Hotel Kami langsung cek in dan bersiap-siap untuk menghadiri pemberkatan jam 9 pagi.

Hint : Lebih baik menggunakan taksi yang ada di stasiun, harganya terbilang fair, Kita gak mesti keluar area  stasiun repot-repot, lagi juga Kita bisa memberikan rejeki kepada supir taksi di stasiun.

Taksi : Rp.60,000. (APV – Stasiun Balapan – Hotel Putri Sari Purwosari).

Untuk pemilihan hotel memang cukup tricky. Kami memilih hotel Putri Sari ini untuk transit, mandi, bersih-bersih dll. Sebenarnya Kami sudah memesan kamar di Amaris Slamet Riyadi, Tapi dikarenakan jam cek in hanya bisa pukul 2 siang, jadi Kami cari hotel sementara untuk menaruh barang-barang dan sekalian untuk istirahat. Maka hotel Putri Sari ini pilihan tepat, harganya cuman 104 ribu rupiah, pas lah buat sampe jam 12 siang, dengan catatan tanggal pesannya tetap pada hari sebelumnya, jadi dihitung late cek in.

Secara keseluruhan, untuk transit, hotel ini cukup baik. Pelayanan cek in yang ramah khas orang Indonesia. Saat menuju kamar, Kami dihampiri oleh penjual nasi liwet, yang ternyata memang mangkal menggunakan sepeda motor di dalam area hotel, pas banget buat Kami yang belum sarapan. Fasilitas dalam kamar pun cukup lengkap, handuk air mineral dan kipas angin sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan Kami. Ada waktu sekitar satu setengah jam buat Kami bersiap-siap untuk menghadiri pemberkatan jam 9 nanti.

Hint : Untuk pemakaian jam-jam an, pilih hotel yang murah aja, yang penting bisa buat mandi dan ganti baju.

Hotel : Rp.104,000. (Hotel Putri Sari Porwosari – Standard Room).

Selesai bersih-bersih, Kami memesan taksi online untuk menuju tempat pemberkatan, acaranya dilaksanakan di Gereja Pengharapan Allah di daerah Mangkubumen. Lagi-lagi Kami mengandalkan taksi online untuk transportasi. Dengan jarak hanya 2 kilometer, Kami sampai di tujuan dan membayae sebesar 16 ribu rupiah. Solo mulai menunjukkan tourist friendly-nya, taksi online yang mudah didapat, supir yang ramah dan biaya yang ekonomis. Kami mengikuti acara pernikahan sahabat Kami selama 2 jam. Selamat menempuh hidup baru buat sahabat Kami. Acara selesai jam 10.30 pagi, Kami bergegas kembali ke hotel dengan menaiki taksi online lagi, karena harus mengejar solat Jum’at di masjid samping hotel.

Kami tiba di hotel, lalu langsung menuju masjid di samping hotel. Cukup senang melakukan kegiatan yang tempatnya mudah ditemukan dan gak jauh-jauh dari tempat Kita stay. Suasana sedikit berbeda yang biasanya Saya rasakan di Jakarta. Biasanya mulai jam 11 siang masjid-masjid sudah ramai suara-suara pengajian melalui toa. Tapi di Solo ini tidak se-hingar bingar di Jakarta. Di sini keadaan sanggat tenang, mungkin kalo kalian gak lihat jam, bisa-bisa bablas ketinggalan solatnya.

Selesai menunaikan solat Jumat, Kami langsung menuju kamar dan mulai packing untuk cek out. Kami memesan taksi online menuju hotel Amaris di daerah Slamet Riyadi. Gak salah Kami memesan hotel di jala ini. Jalan Slamet Riyadi adalah jalan utama di kota Solo, jadi banyak tempat seru beresebelahan di sini. Akhirnya Kami cek in dan bisa santai sebentar di kamar yang proper. Sebelumnya tidur Kami gak sempurna di gerbong kereta, lalu Kami hanya istirahat sebentar di Hotel Putri Sari, sekarang saatnya balas dendam, haha.

2 jam istirahat menurut Saya sudah cukup. Waktu menunjukkan jam 4 sore. Saya usulkan untuk jalan-jalan sore di sekitar hotel untuk menikmati udara kota Solo. Rencananya Kami hanya jalan sampai jam 6 karena pada jam 7 kami harus menghadiri resepsi pernikahan Erik di dekat hotel. Berbekal maps, Kami jalan keluar hotel. Tujuan awal Kami adalah Taman Sriwedari, jaraknya hanya 1 kilometer. Ternyata Taman Sriwedari sedang dalam renovasi pembangunan masjid raya. Masjid ini katanya akan jadi masjid terbesar di Jawa Tengah. OK Kami skip dan langsung menyusuri jalan memutari hotel Kami. Udara di Solo sangat segar, jalanan tertata rapi dan para pengendara sangat mematuhi rambu lalu lintas. Berbeda sekali dengan di Jakarta yang pengendaranya ugal-ugalan. Kami mampir di Superindo untuk membeli kebutuhan seperti cemilan dll. Saya baru ngeh, bahwa sepanjang jalan, Kami gak melihat adanya indomaret ataupun Alfamart, gak tau kenapa kedua toko itu gak ada disini. Sudah cukup berkeringat, Kami balik ke hotel untuk bersiap-siap menghadiri resepsi pernikahan Erik.

Hint : Jalan Slamet Riyadi adalah jalan protokol. Kalau stay di daerah sini kayanya kemana-mana jadi deket.

Hotel : Rp.298,000. (Amaris Standard Room / night).

Jam 7 Kami berangkat ke venue di Gedung Agung Sasono di daerah Kemlayan. Ternyata hanya 1 kilometer dari hotel kami. Akhirnya Kami berjalan kaki saja. Satu lagi keuntungan stay di daerah Slamet Riyadi, walking distance, hehe. Kami tiba di venue hanya dalam 10 menit. Kami menikmati hidangan dan memberikan selamat kepada Erik, semoga langgeng sampai kakek nenek.

Selesai dari acara pernikahan yang memang jadi tujuan Kami, akhirnya Kami kembali ke hotel dengan berjalan kaki. Kami mau ganti baju yang lebih santai. Menurut informasi, nanti malam ada acara perayaan imlek di daerah Pasar Gedhe. Jadi Kami putuskan untuk mengisi malam kesana. Kami menaiki taksi online dan diturunkan di dekat lokasi perayaan, karena keadaan yang padat dan macet. Kami turun dari mobil dan langsung menuju ke arah keramaian. Kami langsung disambut dengan hiasan lampion yang digantung di sepanjang jalan. Kami terus memasuki keramaian, makin lama makin padat, dan jalan pun terhambat, Kami gak tahu apa yang bikin sesak disini, nampaknya warga hanya ingin menghabiskan waktu disini memawa keluarga. Yang Kami lihat hanya pertunjukkan barongsai di salah satu spot. Karena menurut Kami udah gak ada lagi yang bisa dilihat, Kami memutuskan untuk mengunjungi lokasi selanjutnya.

Hint : Banyak yang pesan ke Kami, kalau ke acara seperti ini harus memperhatikan barang bawaan masing-masing, karena pada saat seperti ini sangat banyak sekali kejadian pencopetan menggunakan cutter.

Setelah browsing-browsing, Kami ingat, di jalan sekitar hotel Kami ada banyak cafe yang buka 24 jam. Kami lalu berjalan kaki dari Pasar Gedhe sampai ke kafe dekat hotel Kami. Jaraknya sekitar 2 kilometer. Tapi karena saran pedestrian yang gueede banget, jalan kaki jadi nyaman. Setelah berjalan 30 menit kami sampai di kafe yang Kami tuju. Namanya AMPM kafe, sesuai namanya kafe ini buka AM to PM alias 24 jam, kereeen. Malam itu ada live music juga, dan lagu yang dibawakan juga keren-keren banget, bener-bener diluar ekspektasi Solo ini, kota keren, warganya juga keren. Kami menghabiskan malam disini. Hang out with friend in a good place and drink. Jam 1 pagi Kami balik ke hotel untuk istirahat, karena besok, Saya dan Sara akan pergi Jogja untuk jalan-jalan, Panji dan Indri pulang ke Jakarta, sedangkan Priono dan Lulu akan stay sampai minggu.

Hint : Di Jalan Slamet Riyadi ini, banyak kafe yang buka sampai larut malam, siangnya banyak makanan khas Solo.

Meal : Rp.350,000 (Drink and Snack for 7 pax).

Done for day 1, see you on the next article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *