Day at the Museum ( Bahari, Bank Indonesia )

Minggu, 1 Desember 2019.

Gak ada yang lebih benar, dibandingkan mengawali bulan Desember dengan liburan ke museum!. Saya, Sara dan Rehan akhirnya jalan-jalan ke museum lagi, setelah beberapa bulan lalu Kami ke Bali. Saatnya untuk eksplor Jakarta yang sampai sekarang pun masih banyak spot wisata menarik yang harus dijajaki. Malu dong, tinggal di Jakarta tapi gak tahu tempat wisata apa yang menarik. So, ini pengalaman day trip Kami, enjoy.

Jam 12 siang Kami janjian di Blok M, Saya dari Cipulir, Sara dan Rehan berangkat dari Pamulang. Kami melanjutkan perjalanan menaiki bus jurusan Monas. Sekarang ini, lebih baik naik Transjakarta untuk day trip. Ongkos hanya 3500 rupiah, gak macet, gak kepanasan, dan gak ribet mikirin parkir, dan itung-itung jalan kaki sekalian olahraga.

Transjakarta Blok M – Pakin : Rp. 3,500 x 3 = Rp. 10,500.

Hint : Blok M – transit GBK – transit Monas – transit Penjaringan – Pakin.

Waktu tempuh dari Blok M ke Pakin sekitar 1 jam, lumayan lah sambil lihat-lihat kota Jakarta yang panasnya udah mulai gak umum. Mungkin kendala dari naik Transjakarta adalah gak semua halte berukuran besar, ada halte yang menjadi sesak karena volume penumpang yang membludak, makanya bawa barang-barang yang sekiranya gak merepotkan, dan selalu waspada dompet, HP dan barang berharga lainnya, termasuk pacar kalian, haha.

Dikarenakan banyaknya tempat menunggu / peron bus, lebih baik kalian tanyakan kepada petugas, di sebelah mana harus menunggu bus. Kadang udah antri panjang, eh busnya berenti di peron yang lain. Terlebih di weekend ini banyak banget wisatawan yang juga mau mengunjungi daerah wisata di Jakarta.

Setelah tiba di halte terakhir, yaitu halte Pakin, Kami berjalan kaki sejauh 500 meter menuju pintu masuk museum. Sekitar jam 2 siang, cuaca sedang panas-panasnya, dan udara timur Jakarta yang disertai dengan angin laut, lengkap sudah, tapi ya tetep enjoy aja.

Setelah tiba di loket, Kami membeli tiket masuk seharga 5000 rupiah per orang, murah banget kan. di loket tiket, ada informasi apabila Kita mau menggunakan jasa pemandu wisata, bisa langsung minta di pintu masuk museum, karena loket tiket ini berbeda gedung dengan bangunan museum yang ada di sebelahnya.

Spot pertama sudah pasti yang harus dicoba, naik ke menara syahbandar. Ini menara asli yang memang digunakan dari tahun 1920-an kalo gak salah. Menara untuk memantau kapal yang akan berlabuh, bisa dibayangkan kondisi pada jaman dulu dimana Kita bisa liat langsung ke laut tanpa penghalang. Sekarang sebagian pesisir laut udah dibangun apartemen, mall dan restauran, jadi kalo mau bangun mercusuar harus setinggi monas, haha.

Tiket Museum : Rp. 5000 x 3 = Rp. 15.000

Pemandu Wisata : Gratis / Seikhlasnya.

Selesai dari menara syahbandar, Kami lengsung menuju gedung museum yang ada di sebelah loket tiket. Dari luar, gedung ini cukup besar dan terawat. Pernah ada musibah kebakaran yang menimpa museum ini, tapi nampak perbaikan yang signifikan, sehingga bangunan tetap terlihat kokoh. Di museum ini, Kita akan disuguhkan beberapa peninggalan kapal dari zaman kerajaan , kolonial, hingga modern. Gedung ini dibagi 3 hall (A,B dan C). Hall A berisi miniatur dan benda bersejarah yang disertai dengan infromasinya. Di hall A ini juga sedang diadakan pameran diorama para penjelajah yang pernah tiba di nusantara.

Hint : Kalo kalian mau duduk dulu istirahat sambil ngadem, disini juga ada perpustakaannya lho.

Setelah puas meng-eskplor hall A, Kami menuju hall B dan C. Kami melewati lapangan luas seperti aula untuk upacara. Kepikiran sama Saya kalo ini bisa ni dijadiin tempat untuk mengadakan event seperti outdoor wedding gitu. Udara dan angin cukup segar, karena walaupun hall A ber-AC, tapi tetep Kami kegerahan. Yang Kami notice adalah, disini banyak banget kucing berkeliaran. Kucing aja betah di museum, masa kalian enggak, malu lah sama kuciiinng, haha,

Masuk ke gedung B dan C,  tidak banyak yang bisa dilihat. Gedung B terdapat miniatur dan souvenir yang bisa dibeli oleh pengunjung. Gedung C, berisi keanekaragaman biota laut, serta pajangan para anggota angkatan laut Indonesia. Tapi di gedung ini panas banget, gak ada AC-nya. So, kayanya cukup untuk Kami meng-eksplor museum ini, waktu menunjukkan jam 3.30 sore, saatnya menuju museum Bank Indonesia. Tadinya Kami mau makan dulu di sekitar museum Bahari, tapi Kami tidak menemukan tempat makan sekitar museum, nanti saja cari di daerah Kota, banyak pilihan juga disana.

Jarak dari museum Bahari ke museum Bank Indonesia cukup dekat, gak sampe 2 kilo meter kira-kira. Pas lagi mikir mau naik apa kesana, eh ada tukang bajaj menghampiri sambil nawarin untuk ke Kota Tua. Tanpa berpikir panjang, Kami langsung naik aja, karena kalo naik Transjakarta, haltenya jauh, Kami harus ke Pakin lagi dan waktu udah mepet, takut keburu tutup museumnya.

Tarif Bajaj : Rp. 20,000. Durasi 5 menit.

Tiba di Kota Tua, kawasan lapangan Museum Fatahillah. Seperti biasa, suasana sangat ramai dipadati pengunjung dari berbagai daerah. Tempat ini selalu jadi pilihan karena biayanya cukup ekonomis, dan banyak hiburan seperti penyewaan sepeda, musik dan berbagai pertunjukkan pameran. Maka, membawa keluarga berlibur kesini adalah pilihan yang tepat.

Waktu masih menunjukkan pukul 3.40 sore. Kami langsung menuju ke tempat makan langganan Kami, yaitu nasi pecel. Terletak di pintu masuk kawasan museum Fatahillah dari arah halte Transjakarta Kota. Ada banyak yang jualan pecel disini, tapi Kami biasanya makan yang ada tempat duduknya di dalam pagar, jadi gak ganggu orang jalan, dan gak ada pengamen juga.

Nasi Pecel + Minum : Rp. 70,000 ( 3 orang ).

Selesai makan, Kami langsung menuju museum Bank Mandiri yang terletak tepat di sebelah tempat Kami makan. Inilah enaknya jalan-jalan di Jakarta, semua mudah, one stop entertainment, haha. Jalan kaki hanya semenit tinggal nyebrang udah sampe, yang penting, pinter-pinter Kita mengatur itinerary-nya.

Tiba di pintu masuk museum Bank Indonesia, Kami cukup excited, karena ternyata ada informasi kalo di dalam ada acara pameran dan pop-up market juga, jadi bisa wisata sambil belanja. Akhir-akhir ini banyak acara kekinian diselenggarakan di museum-museum di Jakarta. Buat Saya ini bagus, agar minat orang untuk mengunjungi museum makin bertambah. Image orang tentang museum yang kaku, jadul, dan kurang menarik, bisa berubah. Museum sekarang ini sudah tertata dengan baik, baik dari segi lay out, informasi dan kebersihannya. Yang ga berubah ya hanya harganya saja, masih sangat murah.

Tiket Museum + Pameran : Rp. 5,000 / orang.

Sebelum memasuki museum ini, awalnya Saya pikir bakal boring, karena biasanya sesuatu yang berhubungan dengan instansi bank, pemerintahan dan ekonomi lainnya bakal kaku dan terlalu serius. Dan ternyata Saya salah, ternyata dalemnya kerennn banget. Banyak instalasi-instalasi modern. Kita dimudahkan dengan alur museum yang berurutan dan satu jalur, jadi gak bingung mau kemana dulu. Suasana gedung yang artistik dan megah, membuat Saya bisa membayangkan kalo tempat ini sangat berjaya di masanya.

Bisa dibilang museum ini sangat well-managed. Biasanya, person in-charge di museum itu kalo gak satpam, ya orang yang sudah dewasa. Tapi disini banyak anak mudanya, sepertinya mereka anak magang yang diwajibkan dari kampusnya, karena beberapa kampus jurusan ekonomi perbankan harus tau tentang sejarah ke-perbankan-an Indionesia.

Diorama disini keren banget, pengaturan lay-out yang dibuat dari zaman prasejarah, kolonial hingga modern, tertata dengan rapih. Informasinya pun dibuat dengan teknik audio visual yang modern. Sangat tepat jika membuat anak sekolah kesini untuk mengetahui sejarah perekonomian dan mata uang Indonesia dan dunia.

Museum ini gak melulu berisi tentang uang saja. Secara komperensif, museum ini menceritakan dampak ekonomi yang membuat banyak pendatang di nusantara, mulai dari Arab, Cina dan India. Bahkan menarik perhatian penjajah seperti Portugis, Belanda dan Jepang.

Ada benang merah dari museum Bahari yang Kami kunjungi sebelumnya, bahwa nusantara sudah jadi incaran penjajah sejak zaman dahulu. Kekayaan alam dan value nusantara yang berlimpah, menjadikan alasan mereka untuk datang, ada bertujuan berdagang, berdakwah, dan ada juga yang menjajah.

Puas menjelajahi museum, Kami berlanjut ke acara berikutnya, yaitu pameran dan pop-up market brand lokal. Masih di sekitar museum, tapi di bagian outdoor-nya. Dulunya outdoor ini bisa dipakai untuk wedding, tapi informasi terakhir sudah tidak bisa, hanya untuk pameran kebudayaan saja.

Pop-up market ini sangat penuh sesak oleh pengunjung. Terlihat banget antusias pengunjung yang sangat appreaciate dengan produk buatan lokal Indonesia ini. Sara membeli sticker seharga 35 ribu per sheet. Barang yang dijual pun sangat variatif dengan kualitas yang bagus.

Ada dua pameran yang diselenggarakan di museum ini. Pameran indoor untuk mercandise dan fashion, pameran outdoor untuk makanan. Ada panggung hiburan juga yang menampilkan instrument musik Betawie. Kombinasi ini yang sangat menarik bagi Saya, antara modernitas dan budaya bisa melebur menjadi satu.

Hint : Sebelum mengunjungi museum, lebih baik cari tahu dulu apakah ada acara lain yang diselenggarakan, agar bisa bawa perlengkapan seperti goodie bag untuk menaruh barang-barang.

Terdengar pengumuman dari speaker bahwa pameran dan museum akan segera ditutup karena waktu sudah menunjukkan pukul 5.50 sore. Kami pun melangkah keluar menuruni tangga yang negah di pintu masuk museum ini. Tapi sepertinya Kami belum cukup puas jalan-jalan hari ini. Kami pun memutuskan untuk mengunjungi destinasi terakhir, yaitu M Blok Space.

Hint : Untuk menuju ke M Blok Space, Halte terdekat untuk Transjakarta ada di Blok M , untuk MRT ada di ASEAN atau Blok M.

Ketika keluar gedung, cuaca mulai mendung, gak bisa nih kalo naik Transjakarta, karena jarak dari halte Transjakarta ke M Blok Space sekitar 200 meter, bakal keujanan. Kami akhirnya naik taksi, agar bisa turun tepat di depan lobby. M Blok Space emang gak menyediakan lahan parkir. Ini bertujuan agar pengunjung mau menaiki angkutan umum atau menggunakan sepeda, jadi lebih ramah lingkungan.

Tarif Taksi (Kota-Blok M) : Rp. 60,000.

Kami pun tiba di M Block Space sekitar pukul 7.30 malam. Suasana rame banget. Maklum, ini adalah primadona baru bagi warga Jakarta maupun luar Jakarta yang kekinian. Transaksi disini cashless, kalian mesti siapkan card atau bisa juga dengan platform digital payment.

Ternyata lagi ada flea market juga disini, kayanya pop-up market ini emang lagi musim ya, dimana-mana ada. Saya termasuk yang suka beli barang di pop-up market. Selain kualitas bagus, model barangnya pun unik. Sekalian Kita juga mendukung produk lokal Indonesia,

Tenant disini juga bervariasi. DI bagian depan, ada makanan eropa, kopi, kerajinan tangan sampai musik. Kalo gak mau belanja ya bisa ngopi-ngopi aja di teras atau balkon lantai atas. Di bagian belakang, bisanya digunain kalo ada kegiatan yang butuh space besar, seperti konser atau pop-up market.

ini adalah destinasi terakhir Kami. Setelah hujan reda, Kami pun pulang ke rumah masing-masih. Hari yang padat, melelahkan tapi seru. Day trip seperti ini akan sering Kami lakukan, karena masih banyak tempat yang belum dikunjungi. See you on the next article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *