Belajar Membatik di Museum Tekstil

Minggu, 2 Februari 2020.

Sudah lama gak ke museum, saatnya Kami berwisata lagi. Kali ini hanya Saya dan Sara. Kami ketemuan di Blok M untuk menaiki MRT. Waktu menunjukkan jam 1 siang, lagi panas-panasnya. Kami gak naik motor, lebih pilih transportasi umum karena lebih adem dan gak capek nyetir juga.

Hint : Kami naik angkutan trasnportasi agar santai, adem dan gak capek nyetir.

Mrt : Blok M – Benhil Rp. 7,500 /orang.

Dari MRT Blok M, Kami turun di halte Benhil. Dari sini Kami menyusuri jalan sekitar karet ke arah depan Citiwalk, lalu menunggu mikrolet yang menuju Tanah Abang. Udah lama juga Saya gak naik mikrolet, karna biasanya Saya menggunakan Transjakarta. Seru juga naik angkutan umum, bergonta-ganti armada. Tapi kalo buru-buru ya naik taksi saja.

Sekarang ini di Jakarta transportasi umum sudah mulai membaik. Dari fasilitas penunjang maupun armadanya juga sudah banyak tersedia. Kalau banyak pilihan seperti ini, ya jelas penumpang seperti Saya ini jadi terbantu.

Hint : Saya hanya berpatokan ke google maps untuk rekomendasi rute, jadi seru deh kadang disuruh naik angkot yang udah lama gak Saya gunakan lagi.

Cost : Rp. 4,000/orang (mikrolet Karet – Tanah Abang).

Kami turun di Pasar Tanah Abang. Suasana ramai khas pasar. Orang berlalu-lalang dengan masing-masing kesibukannya. Maklumlah, disini semuanya jadi satu, pasar, terminal dan stasiun, crowded banget. Yang penting, kita harus berhati-hati di kondisi area yang padat seperti ini.

Dari sini, kita tinggal jalan kaki menuju museum. Jaraknya sekitar 200 meter. Letaknya juga ada di pinggir jalan. Selayang pandang, museum ini nampak gak terawat dari luar, padahal dalamnya bagus. Mungkin juga banyak yang gak ngeh tentang keberadaan museum ini.

Tibalah Kami di pintu masuk museum. Kami langsung disambut satpam di gardu masuk dan diharuskan membayar tiket sebesar 5000 rupiah per orang. Bayarnya harus menggunakan kartu dari Bank DKI. Kalau belum punya, bisa sekalian beli di tempat seharga 30 ribu dengan isi 7000 rupiah.

Hint : Jalan menuju museum ini sangat padat, hendaknya berhat-hati.

Tiket : Rp. 5,000 /orang.

Saatnya eksplor museum. Ada dua gedung inti di museum ini. Pertama, Saya akan memasuki bangunan utama. Bangunan yang tampak megah dari luar, malah lebih cocok seperti rumah bangsawan dengan pendopo dan area pintu masuk yang besar. Lalu di dalamnya Kami melihat berbagai macam koleksi hasil tenun dari berbagai provinsi di Indonesia. Dibandingkan ukuran gedungnya, koleksi disini gak terlalu banyak. Bahkan terasa membosankan karena pengunjung hanya disuguhkan contoh koleksi yang dipajang di dalam lemari maupun pigura. Tentu ini menjadi catatan buat pengurus gedung untuk menjadikan museum tekstil tempat yang atraktif. Disini Saya bertemu beberapa mahasiswa yang sedang mengobservasi museum untuk mengetahui tingkat ketertarikan anak muda untuk pergi ke museum. Karena hanya ada Saya dan Sara di dalam museum, maka hanya Kami yang bisa diwanwancara singkat oleh para mahasiswa-mahasiswi tersebut.

Hint : Gedung ini kurang atraktif, dibutuhkan banyak improvement agar lebih menarik.

Selesai eksplor gedung utama, Kami beranjak menuju gedung padepokan batik. Letaknya di belakang gedung utama. Katanya disini kita bisa sekalian belajar membatik. Seumur-umur Saya belum pernah mencoba membatik, ini akan jadi pengalaman pertama Saya. Begitupun dengan Sara, dia juga mau coba kalau memang ada programnya.

Kami langsung masuk ke pendopo dan langsung melihat banyak bangku dan tungku api yang diatasnya berisi lilin sebagai bahan tinta batik. Saya langsung ditawari mau atau tidak menjajal membuat corak batik oleh penjaga pendopo. Kami pun antusias mencoba. Sebelumnya, Kita diharuskan memilih gambar atau corak yang sudah tersedia. Buat pemula, pilih corak yang gampang aja. Lalu Kita tinggal meniban jiplakan corak tersebut dengan tinta lilin. Saya yang awalnya antusias, lama-lama pegel juga, gak sabaran. Sampai akhirnya Saya nyerah dan berhenti, haha. Tapi hasilnya boleh kok dibawa pulang.

Hint : Membatik ternyata memakan waktu yang lama bagi pemula, karena museum ini tutup jam 4 sore, jadi kalo mau santai datang dari pagi ya.

Belajar Batik : Rp. 45,000 / orang.

Gak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, museum pun sudah mau tutup. Saatnya Kami meninggalkan museum dan melanjutkan trip ke beberapa tempat, kebetulan masih sore juga. Kami menuju stasiun kereta Tanah Abang untuk menaiki KRL menuju Sudirman. Mengapa Sudirman? karena sore hari begini banyak yang main skateboard di taman sebelah jalan utama Sudirman. Selain itu, jalan-jalan sore di Sudirman juga sangat asik karena fasilitas trotoar yang sangat nyaman.

Sesampainya di stasiun Sudirman, Kami langsung keluar stasiun dan mengarah ke jalan Sudirman. Disini langsung ada beberapa orang yang sedang bermain skateboard. Kami pun duduk dan menonton sambil minum kopi yang Kami beli di stasiun. Sungguh sore yang indah. Kopi habis Kami langsung jalan kaki ke arah halte MRT Dukuh Atas. Kami melewati JPO yang lagi hits. JPO ini menjadi tempat swafoto karena view nya yang keren. Atap JPO ini dicopot, jadi kita bisa melihat pemandangan ibukota yang berlatarkan gedung-geduung tinggi.

Setelah selesai berfoto, Kami langsung menuju halte MRT. Tujuan akhir Kami adalah Blok M, sebagaimana tempat awal Kami memulai perjalanan. City Tour ini memang mengasyikkan. Dengan moda transportasi yang memadai bagi publik, maka ongkos yang Kami rogoh pun gak terlalu banyak. Semoga makin banyak warga yang mau meng-eksplor kotanya dengan kendaraan umum, dan mengunjungi museum yang berisikan ilmu yang berguna untuk kita semua.

See you on the article.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *