Trip ke Bali vida Jalur Darat ( day-6 / last day )

Rabu, 11 September 2019.

Alarm Kami berbunyi jam 8 pagi, saatnya bangun, mandi dan berangkat menuju stasiun yang berjarak hanya 30 meter dari home stay Kami. Bahkan suara peluit kereta bisa terdengar dari sini. jadwal kereta pukul 9 pagi, ada waktu 45 menit buat Kami siap-siap.

Kami langsung menuju stasiun dan melakukan proses cek in. Enaknya home stay yang letaknya di samping stasiun, gak takut telat ketinggalan kereta. Sebelum Kami masuk ke gerbong, Kami menunggu dulu di luar gerbong, sambil menikmati pemandangan, langitnya ceraahh banget. Awan putih, langit biru, gak terhalang apapun, seger banget. Sementara pemandangan di sekitar gerbong adalah para petugas yang sedang memasukkan kargo ke dalam rangakaian gerbong.

Petugas sudah memberikan pengumuman bahwa kereta akan segera diberangkatkan. Kami masuk ke gerbong, Kami akan meninggalkan Banyuwangi dan kembali ke Jakarta. Sayangnya Kami gak sempet meng-eksplor Banyuwangi lebih lama, mungkin next trip Kami akan full eksplor Banyuwangi. Kereta mulai diberangkatkan menuju Surabaya, Kami lanjut tidur di perjalanan.

Sekitar jam 3.30 sore, Kami tiba di stasiun Surabaya Gubeng, jadwal kereta berikutnya adalah pukul 8 malam dari stasiun Surabaya Pasar Turi. Masih ada waktu sekitar 3 jam bagi Kami untuk ngopi dulu sambil cari udara segar di luar gerbong. Saya mulai browsing, mencari tempat ngopi yang asik di Surabaya. Ada satu tempat kopi yang menarik perhatian Saya, namanya Titik Koma Coffee Shop. Jaraknya sekitar 7 kilometer dari stasiun Gubeng, tanpa pikir panjang, Kami langsung memesan ojol.

Ojol Kami tiba, perkiraan durasi perjalanan yang tertera di aplikasi adalah 11 menit, dengan tarif sekitar 20 ribu rupiah. Kami pun naik, dengan khas-nya pengemudi ojol mulai ngajak ngobrol dan ngalor-ngidul, haha, Saya sih nimpalin aja, lucu juga. Dia menanyakan, kenapa memilih kafe yang jadi tujuan Saya, dan Saya jawab kalo Saya suka aja, gak ada alasan apapun. Dia menyarankan untuk mengganti tujuan ke kafe lain, yaitu Rolag Kafe, katanya lebih dekat, harganya lebih murah dan ramai. Ini yang mesti diingat, selera Kita itu berbeda-beda, Saya sempat heran kenapa Bapak ini maksa banget untuk mengantar Saya ke kafe pihannya, karena setelah Saya googling, tempatnya gak banget, bukan Saya banget. Kalian harus kekeuh kalo dah suka sama suatu tempat, Saya masih ingat pengalaman gak enak Saya di hari pertama tiba di Surabaya beberapa hari lalu. Saya mengikuti saran supir ojol, dan akhirnya zonk! Akhirnya dengan  sopan, Saya tetap pada tujuan awal Saya. Saya tahu, supir ojol ini gak ada niat jelek, murni mau kasih saran, tapi ya Saya juga berhak nolak kan.

Kami tiba di tujuan Kami, Titik Koma Coffee, letaknya di dekat taman Bungkul, Saya lupa nama jalannya. Kami bayar ojol, dan langsung masuk, dan bener aja, keren banget tempatnya. Ini model tempat ngopi yang Saya suka, bersih dan gak terlalu ramai. Kami memesan dan langsung duduk di bagian luar kafe, karena udaranya lagi segar, dan rehan juga mau ngerokok.

Kami menikmati kopi dan cemilan dengan santai dan tentram di Surabaya. Keadaan kaya gini yang Saya cari, masa transit, tapi full bermakna. Lokasi kafe yang ada di dalam komplek juga jadi nilai lebih, gak berisik. Nampaknya perawakan dan barang yang Kami bawa menarik perhatian barista disini, dia bertanya Kami dari mana dan mau kemana, akhirnya obrolan dengan orang yang Kami baru kenal pun mengalir, dan disitu serunya. Ternyata dia pernah tinggal di Bekasi, emang dunia ini sempit, jauh-jauh ke Surabaya ujung-ujungnya ketemu orang Bekasi, haha.

Coffee & Snack : Approx Rp. 150,000. for 2 person.

Waktu menunjukkan pukul 6 sore, saatnya Kami beranjak menuju stasiun Pasar Turi. Kereta Kami berangkat pukul 8 malam ke Gambir. Sebelum memesan ojol, Kami berjalan kaki ke Taman Bungku, jaraknya hanya 200 meter dari tempat Kami sekarang. Saya rasa belum ke Surabaya kalo gak mampir ke Taman Bungkul.

Dan ternyata gak gede-gede banget, jadi Kami hanya duduk sebentar lalu memesan ojol. Pas banget, pesan dari Taman Bungkul lebih memudahkan ojol untuk menemukan titik penjemputan. Ojol pun sampai, Kami langsung menaiki ojol menuju stasiun Pasar Turi dengan durasi kira-kira 10 menit.

Jam 7 malam, Kami tiba di Pasar Turi, Kami turun dari ojol dan langsung menuju pintu masuk. Proses cek in seperti biasa, dan Kami mulai masuk ke dalam gerbong. Kami menaruh tas lalu keluar gerbong lagi, Rehan seperti biasa, mau ngerokok dulu. Kami sedikit bercerita pengalaman Kami selama Liburan ini, mulai dari Jakarta ke Bali, sampai ke Jakarta lagi. Saya menanyakan kesan apa yang gak terlupakan dari perjalanan ini, dan apakah dia kapok ? Rehan sangat senang dengan perjalanan ini, Sara, Vita dan Tya pun juga, Kami full liburan bebas tanpa ada jadwal yang mengikat.

Demikian artikel ini Saya buat, 6 hari total sudah Kami jalan-jalan, Banyak kejadian baru dan pengalaman yang bisa dijadikan pengalaman. Tentunya ini bukanlah perjalanan terakhir Saya, nanti akan Saya share lagi beberapa artikel untuk trip yang akan Saya jalani. Terima ksaih buat teman-teman yang sudah membaca blog Saya. See you on the next destination.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *