Trip ke Bali via Jalur Darat (day-5)

Kamis, 5 September 2019.

Hari terakhir di Bali, setelah 3 hari yang seru. Hari ini Kami akan mengunjungi destinasi terakhir, sekalian membeli oleh-oleh. Rasanya masih belum puas jalan-jalan di Bali, haha. Tanpa buang waktu, Kami otw ke tempat penjualan oleh-oleh yang terkenal di Bali, yaitu pasar Sukowati. Jaraknya memang jauh dari Legian, tapi gak apa-apa, sekalian jalan-jalan hari terakhir., Flight Sara, Vita dan Tya juga malem banget , jam 10 malam. Cukup lah buat pergi ke tempat yang agak jauh.

Tips : Ini jangan dicontoh ya, harusnya hari terakhir tuh khusus buat beli oleh-oleh, jangan jalan-jalan jauh lagi, haha.

Jam 12 siang, Kami cek out dari Swiss-bel Legian. Kami memutuskan mencari hotel melati di area poppies lane. Kami hanya mau menaruh barang-barang aja, jadi Kami menyewa satu kamar. Kamar ini juga akan Kami pakai untuk mandi sebelum pulang ke Jakarta.

Room : Rp. 150,000. Langsung cari aja di Poppies Lane, bisa juga cari di aplikasi.

Tips : Karena jam cek out nanggung, dan pake kamar hanya sebentar, jadi cukup sewa satu kamar aja buat mandi.

Kami baru meluncur dari hotel sekitar jam 2, kesiangan sih sebenernya, tapi Kami emang tidur agak larut semalem. Langsung tancap gas menuju pasar Sukowati di daerah Gianyar-Batuan. Jaraknya lumayan jauh, Kami menggunakan google maps dan diarahkan melalui jalan raya utama. Sebenernya ada jalan yang lebih asik, lewat jalan kampung, lebih adem, tapi Kami salah milih rute, Kami pilih rute untuk mobil, harusnya di google maps, pilih rute untuk motor.

Sejam perjalanan Kami tiba di lokasi pasar Sukowati, dan ternyata pasarnya gak ada, bener-bener gak ada, bahkan bangunannya udah hampir roboh. padahal baru 6 bulan lalu Saya kesini masih ada. Setelah Kami tanya warga sekitar, ternyata pasar Sukowati pindah sementara ke lapangan GOR. Jaraknya sekitar 500 meter dari pasar Sukowati yang lama. Kami pun meluncur ke pasar Sukowati yang baru.

Akhirnya Kami sampai di pasar Sukowati. Karena Saya belum makan, Saya mampir dulu di warung baso ayam di dalam pasar, sementara yang lain duluan masuk ke pasar untuk belanja. Saya pun mengobrol dengan Ibu penjual baso. Katanya, pasar Sukowati sedang direnovasi, jadi sementara pasar dipindahkan kesini. Memang rasanya pasar sementara ini gersang banget, panasss. Beda dengan pasar Sukowati yang lama, lebih adem. Mudah-mudahan cepet selesai deng renovasinya.

Hint : Siap-siap ya dengan penawaran penjual disini, agak maksa soalnya.

Setelah makan, Saya menyusul ke dalam pasar dan mencari mereka. ternyata mereka sudah berenti disalah satu kios. Kami memutuskan membeli semua oleh-oleh di kios ini, karena nampaknya semua menjual barang yang sama, jadi beli di satu tempat aja biar dikasih diskon. Tidak banyak pilihan di pasar ini, jadi Kami gak perlu muter-muter lebih lama, karena setelah ini Kami mau langsung ke pantai Pandawa.

Hint : Rata-rata harga baju disini Rp. 100,000 ( 3-6 pc ) tergantung model dan tawar-menawar.

Kami otw ke pantai Pandawa, tapi karena Kami belum makan, Kami cari makan dulu di sepanjang jalan arah pantai Pandawa. Dan Kami pun makan di JFC ( Jaya Fried Chicken ). Kalo di Jakarta, mungkin Kita sering lihat D’besto, Sabana, dll. Tapi di Bali, kayanya JFC ini adalah primadonanya, fried chicken khasanah lokal, haha. Saya juga penasaran soalnya, dari Gilimanuk sampai Kuta, ada gerai JFC, akhirnya kesampean juga.

Ini gerai di daerah Guwang-Gianyar. Sama seperti di Jakarta, ukurannya sedang, ada sekitar 5 set meja, kebetulan saat itu memang lagi sepi. Overall, ayamnya emang enak sih, gede lagi, cukup buat mengisi tenaga Kami yang mesti lanjut ke pantai Pandawa. Kami gak berlama-lama, setelah makan, langsung otw pantai Pandawa. Hari sudah sore, sekitar jam 4, jadi masih sempet buat main air disana.

Paket Ayam : Rp. 25,000 – Rp. 35,000. / porsi.

Jalur yang Kami ambil adalah melewati tol laut Bali Mandara. Gak tau kenapa walaupun agak muter, tapi Kami seneng aja, karena pemandangan lautnya keren, apalagi sambil naik motor di jalan tol, pas lah. Sebenernya pilihan tempat Kami ini agak salah, karena Kami harus pergi dari ujung ke ujung. Jadi kalo kalian pergi, itinerary harus dipikirin agar gak makan banyak waktu di jalan.

Setelah keluar tol, Kami masuk arah Ungasan. Nah disini nih, mulai masuk jalur perkampungan, karena Kami menggunakan google maps dengan direction for motorcycle. Dan jalurnya kereeeenn banget, pas banget di jam segini, sekitar jam 5 sore, golden hours. Kami berenti dulu buat foto-foto, udah gak perlu filter atau edit lagi, keren banget deh hasilnya, liat aja gambarnya di bawah :

Tips : Kalo kesini, usahakan antara jam 4-5 sore, mataharinya lagi bagusss.

Selesai foto-foto, Kami lanjutkan perjalanan, Dari tempat foto Kami ke pantai Pandawa, jaraknya sekitar 3 kilometer. Sepanjang perjalanan menuju pantai, Kami disuguhi keindahana alam yang luar biasa, tebing, pepohonan dan lautan yang mengiringi perjalanan Kami, serta udara yang segara, udah sangat cukup membuat perjalanan Kami menjadi berkesan.

Sesampainya di area pantai Pandawa, Kami harus membayar tiket masuk, 8000 rupiah per orang, dan 2000 rupiah per motor, murah banget kan ? dibandingkan dengan keindahan alam yang bakal kalian dapet disini. Setelah bayar, lanjut lagi, jalan menurun dan lega, Kami sedikit ngebut, karena emang enak banget buat ngebut, tapi tetep hati-hati ya.

Sambil menuju pantai, kalian bisa berenti dulu, ambil foto dari ketinggian, laut menjadi latarnya. Bisa juga foto dengan latar tebing, karena ada ukiran patung di setiap sisi tebing, terserah kalian lah, haha, pilih aja. Kalo Saya gak sabar, mau buru-buru nyebur. Ada beberapa pilihan spot disni, Kami memilih spot yang menyewakan Kano, karena kalo untuk snorkeling, gak bisa, udah kesorean.

Hint : Disini sunsetnya gak bagus-bagus  banget, jadi jangan kesorean kesini, bisa dari siang buat main Kano.

Kami parkirkan kendaran Kami, lalu lanjut ke pantai, dan menyewa Kano yang bisa dinaiki untuk 2 orang seharga 50 ribu rupiah. Karena udah jam 5.30 sore, jadi pantai sepi banget, cuman Kami berlima. kami pun memanfaatkan waktu yang ada buat bermain kano bergantian, karena Kami haru ke satu tempat lagi buat beli oleh-oleh.

Tips : Hati-hati ya apabila bermain kano, harus memperhitungkan kuatnya angin, jangan jauh-jauh dari bibir pantai.

Sewa Kano : Rp. 50,000.

Waktu menunjukkan pukul 6 sore, saatnya menyelesaikan main kano. Langit sudah gelap, hanya sinar lampu motor yang menerangi jalan Kami. Dengan sedikit ngebut Kami langsung menuju tempat oleh-oleh dan destinasi terakhir Kami di Bali, yaitu toko oleh-oleh Krisna.

Semua orang pasti familiar dengan toko, ini karena memang barangnya lengkap, dan harganya terjangkau. Sebenernya Kami semapt mampir di toko oleh-oleh yang baru, yaitu Keranjang, tapi kayanya gak selengkap Krisna, atau emang belom biasa aja kali, jadi mesti banyak waktu buat muter-muter nyari rak-nya.

Hint : Untuk memilih toko oleh-oleh memang tergantung selera. Untuk Krisna, mereka menyediakan jasa packing, jadi bisa lebih ringkas di bagasi.

Selesai belanja, Kami bergegas ke hotel. Sara, Vita dan Tya langsung mandi bergantian, ada yang packing, ada yang dandan. Mereka harus mengejar flight jam 10 malam. Sementara sekarang dah jam delapan. Untungnya jarak dari hotel ke bandara cukup dekat. Saya dan Reha hanya menonton saja keribetan mereka, karena Kami pulang naik kereta, jadi bisa balik kapan aja.

Sara memesan taksi online ke bandara, walaupun keadaan cukup padat di Legian, tapi taksi datang tepat waktu. Saya mengantar mereka ke ground zero tempat taksi menunggu. Disinilah Kami berpisah, mungkin mereka sudah bisa menikmati Jakarta 2 jam lagi, sementara Saya dan Rehan, haha, liat aja deh di artikel ini.

Tips ; Cari hotel melati di sekitar ground zero, tempatnya pas buat patokan dan parkir.

Sekarang giliran Saya dan Rehan siap-siap untuk pulang ke Jakarta. Kami akan melalui jalan darat lagi dari Bali sampai Jakarta. Kami bergantian mandi dan packing. Kayanya bawaan Kami bertambah, haha, gak apa-apa lah, namanya juga liburan. Kami memesan ojol masing-masing, dan tepat pukul 12 pagi, Kami meninggalkan hotel. Perjalanan pun dimulai.

Rehan, dapet duluan, beberapa menit berikutnya Saya pun menyusul. Cukup aneh perjalanan pulang ini, kayak main-main, haha. Ya gimana, Kami pulang pun santai banget, bahkan masih bisa dibilang jalan-jalan menuju pulang. Suasana jalan yang sepi pada pagi ini juga cukup membuat Saya tenang. memang perjalanan malam lebih asik daripada perjalanan siang.

Setengah Jam perjalanan Saya tiba di terminal Ubung. Rehan sudah sampai duluan. Kami langsung melihat ada bus ukuran tanggung stand by di terminal, dan nampaknya memang hanya ini bus yang ada. Saya kurang tau apakah ini adalah bus terakhir atau bukan, tapi nampaknya gak  ada bus lagi di sekitar terminan yang stand by. Berarti Kami sangat beruntung masih mendapatkan bus untuk menuju ke pelabuhan Gilimanuk.

Seperti biasa, Saya pilih kursi paling depan, dan Rehan, di belakang Saya. Formasi yang sama ketika Kami naik bus dari Gilimanuk ke Ubung. Supir sudah mengecek bus, semua penumpang juga sudah naik, saatnya perjalanan sekitar 3 jam ke Gilimanuk. Enaknya jalan jam segini, bisa tidur di bus, dan perjalanan akan lebih singkat karena gak macet.

Ubung – Gilimanuk : Rp. 50,000 / penumpang.

Separuh perjalanan, Saya masih belum tidur, Saya sungguh menikmati perjalanan ini. Suasana jalan yang kosong, mobil yang ngebut, malah jadi tambah seru. Saya ingetin lagi ya, kalo kalian takut karena mobilnya ngebut, mendingan duduk di belakang. Setengah perjalanan, Saya ngantuk juga. Walaupun posisi duduk agak gak enak, tapi kayanya udah gak bisa tahan ngantuk, dan waktu juga udah jam 3 pagi. Yang Saya heran, ini supir gak ada gejala capek, Saya lihat dia udah bekalin dirinya pake rokok, kopi dan cemilan yang dari tadi gak abis-abis. Okelah pak supir, lanjutkan, Saya bobo dulu.

Jam 4 subuh, Kami tiba di pelabuhan Gilimanuk. Kami diturunkan di depan pintu masuk pelabuhan. Lalu Kami berjalan kaki sampai ke dermaga. Proses pembelian tiket sama seperti biasa. Petugas juga banyak yang stand by di dalam pelabuhan. Kami langsung menuju dermaga yang ada kapal sedang loading, langsung aja kami naikin.

Suasana di kapal cukup sepi, ya maklumlah, sekarang masih jam 4 subuh. Kami langsung masuk ke dalam ruangan kapal. Kalo sore, Saya biasanya lebih suka di dek, karena anginnya segar. Karena ini subuh, di luar dingin banget. Kami memutuskan untuk tidur sampai tiba di pelabuhan Ketapang. Kursi banyak yang kosong, Saya ambil bagian belakang kanan, Saya rebahkan badan Saya di 5 deret kursi, begitupun juga Rehan, nikmat betul kursi ini, haha.

Saya tiba-tiba dibangunkan, ternyata Kami dah sampai di pelabuhan Ketapang, kok cepet banget ya, haha. Kami masih ngantuk, dengan sedikit gontai, Kami keluar dari kapal. Udara sangat dingin dan masih gelap. Kami langsung mencari home stay. Jarak dari pelabuha Ketapang ke stasiun Banyuwangibaru hanya sekitar 300 meter.

Jadwal kereta Kami dari Banyuwangi ke Surabaya adalah pukul 9 pagi hari ini. jadi Kami masih punya waktu sekitar 3 jam untuk istirahat. Kami memilih beristirahat di home stay samping stasiun. Udah ada penjaga yang stand by, karena mereka tau jadwal kereta dan pasti ada aja traveler yang mau beristirahat.

Home stay : Rp. 90,000.

Sebenernya Kami bisa nunggu di stasiun, tapi Kami mau rebahan dengan sempurna sebentar, dan paginya mau mandi dulu, biar perjalanan ke Surabaya lebih segar. Kami pun rebahan, karena jarak yang hanya 50 meter dari satsiun, Kami bisa bangun agak mepet. Kami harus istirahat, agar nanti perjalanan ke Surabaya bisa fit, see you on the one last article of this trip.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *