Trip ke Bali via Jalur Darat ( day-3)

Minggu, 8 September 2019.

Selamat pagi Bali!, hari ini Kami mengawali hari dengan sarapan. Cuaca cukup panas, tapi gak se-panas di Jakarta sih, haha. Kami breakfast di restoran yang terletak di lantai dasar, dekat reception. Suasana restoran cukup nyaman, mengitari kolam renang yang jernih tapi sepi. Menu sarapannya biasa aja, tapi okelah.

Jadwal Kami hari ini adalah masih seputar Soundrenaline 2019, Sara, Vita dan Tya masih harus menonton hari terakhir pertunjukkan musik ini. Saya dan Rehan masih bertugas menjadi tim hunter (hunter jemput, lol). Sebelum menuju GWK, kami masih membicarakan destinasi apa yang mesti dikunjungi, karena rencana ke GWK masih sore hari.

Akhirnya Kami memutuskan untuk menunggu sore di salah satu kafe yang lagi happening di jalan Sunset Road Seminyak, yaitu Starbucks Coffee. Sebenernya di Jakarta sih banyak Starbucks, tapi katanya yang ini beda, selain lokasinya, lay out kafenya pun luas. Kami langsung parkir di belakang gedungnya, dan bener aja, kafenya luas banget. Kafe ini besar karena ada banyak pilihan ruangannya, indoor maupun outdoor. Ada juga sesi pelatihan tentang kopi dan cara roasting-nya, tapi Kita skip aja, karena Kita kesini mau nyantai, bukan jadi barista, hehe. Setelah mengobservasi seluruh area, Kami pilih duduk di bangku bar. Disini lebih baik pesan yang manual brew, biar bisa liat barista bikin kopi secara manual, jadi keliatan prosesnya. Kalo kalian mau pesen yang espresso based, bisa pesen di outlet sebelahnya. Menu yang lagi happening sih namanya Dewata Coffee, dan memang enak sih setelah dicoba.

Hint : Harga kopi disini lebih mahal dari pada outlet yang ada di Jakarta.

Ngopi-ngopi ga berasa sudah sore aja, waktu menunjukkan jam 3 sore, saatnya Kami meluncur ke GWK untuk drop Sara, Vita dan Tya. Kami sedikit memutar melewati tol Bali Mandara sambil lihat-lihat pemandangan. Ini adalah hari terakhir Soundrenaline, makanya suasana begitu padat dan macet, tapi ga masalah karena Kami mengendarai motor.

Setelah ngedrop mereka, Saya dan Rehan langsung meninggalkan GWK yang udah ramai banget. Kami memutuskan untuk ngabisin sore di Pantai Kuta. Pantai sejuta umat bagi wisatawan, pantai yang ramai dan ombak yang seru, jadi tujuan semua wisatawan. Enaknya lagi, pantai ini dekat dengan hotel Kami di legian, jadi walking distance gitu.

Jam 5, Kami tiba di pantai Kuta, suasana sangat ramai, banyak kegiatan juga sedang diselenggarakan disana. Kami gak berenang, karena memang gak ada yang jagain barang-barang Kami, jadi Kami hanya menyusuri pantai sampai matahari terbenam, sedaaap. Kami lalu menyeberang ke Kuta Beach Walk. Mall ini ramai juga, Saya merencanakan untuk chill di bagian outdoor mall ini untuk nyantai sore pada hari terakhir Kami di Bali, semoga kesampean. Kami hanya berkeliling sambil liat-liat aja, karena mall bukan jadi tujuan Kami, udah bosen lihat mall di Jakarta. Waktu sudah maghrib, Saya diantar Rehan balik ke Hotel, sementara Rehan mau jalan-jalan dulu ke Seminyak, Dia mau menemui temennya disana, ya sudah, Saya istirahat aja.

Saya bangun jam 9 malam, Rehan juga sudah balik dari Seminyak. Sara, Vita dan Tya masih di GWK sampai jam 1 pagi. Saya langsung mandi, lalu ajak Rehan untuk cari makan di sekitar Legian. Kami menyusuri jalanan Legian sambil melihat-lihat kafe yang asik buat nongkrong. Akhirnya ada kafe yang pas buat Kami, namanya De Patio Legian Cafe. Letaknya di tengah keramaian jalan Legian sebelum ground zero. Kami belaga turis nongkrong di cafe yang isinya bule semua, plus duduk di meja yang menghadap jalan, bedanya, Kami minum sof drink, bukan beer, haha.

Tips :Pada malam hari, lebih baik berjalan kaki saja, dan memilih kafe yang menunya bisa dibaca dulu, agar tau makanan apa yang disajikan.

Kami asik nongkrong di Legian, dan gak terasa udah jam 11 malam, saatnya menjemput Sara, Vita dan Tya di GWK. Walaupun acara selesai jam 1 pagi, Kami pergi lebih awal, karena jalanan pasti macet dan semua pengunjung akan keluar berbarengan, ini adalah peak hour-nya.

Kami tiba di sekitar GWK, dan bener aja, rameee banget. Kami memutuskan untuk cari tempat nunggu di kafe atau semacamnya di sekitar GWK. Dan Kami gak dapet, gak tau knapa disini sedikit sekali kafe-nya. Kami gak nyerah, Kami muter-muter, dan akhirnya Kami dapet!, satu lagi warkop khas anak muda Bali. Ini bukan kafe fancy, ini hanya lapak dengan gerobak kopinya, yang dateng pun anak asli Bali yang memang mau nyantai dan ngobrol sesama teman. Kami putuskan untuk nunggu disini, kerasa banget suasana ramah dan nyantainya. Saya lupa nama kafenya, tapi ini terletak di depan pintu masuk Ungasan Hotel, kalian mesti coba sih kesini, karena makanan dan minumannya enak semua. Sara mengabari Saya pukul 2 pagi, acara sudah selesai dan mereka menyusul kesini, karena Saya susah kalo harus ke GWK, padet banget. Sambil nunggu macet terurai, Kami lanjutkan nongkrong di warkop ini. Jam 3 pagi, Kami balik ke hotel untuk istirahat, besok kita punya waktu sehari semalam buat jalan-jalan, siapkan stamina.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *